Under Construction

January 27, 2009 |  Tagged | Leave a Comment

http://adembener.blogspot.com/

Jangan simpan ini untuk anda
sendiri, teruskan forward ke teman lain,

Fotografernya  : Kevin Carter, ia bunuh diri akibat depresi 3 bulan setelah mengambil foto - foto dibawah ini.

Showletter_1


I feel very GRATEFUL for what I have today…
                          We are so lucky! Contemplate on this…
Showletter2_1

I felt very fortunate to live in this part of the world…

Showletter3

>>>Think & look at this…
when you complain about your food and the
food we waste daily…" MAY ALL BEINGS BE FREE FROM SUFFERING!!!!
I promise I will never waste my food no matter how bad it can taste and how full I may be…

Showletter4

I promise not to waste water. I pray that this little boy be alleviated from his suffering…
 
Image007



I pray that we will be more sensitive towards the suffering in the
world around us and not be blinded by our own selfish nature and
interests.

Image002

I hope this picture will always serve as a reminder to us
about how fortunate we are and that we must never ever take things for
granted.

Showletter5


Please don’t break this and keep on forwarding it To all our friends.
On this good day, let’s make a prayer for the Suffering in any place
around the globe and send this friendly reminder to others.


Ilusi Kereeeennn…

April 27, 2007 | | 3 Comments

Kalau Anda melihat dua foto di bawah ini dari tempat duduk di depan komputer  Anda, si Tuan Pemarah ada di sebelah kiri dan sang Nyonya Kalem di sebelah kanan. 
       

Sekarang berdirilah dari tempat duduk Anda dan mundur kurang lebih 3 meter, dan Woooow!!!mereka berpindah tempat!!!! 

       

Illusi ini diciptakan oleh Phillipe G. Schyns dan Aude Oliva dari Universitas Glasgow.

       

Membuktikan bahwa belum tentu apa yang kita lihat benar-benar ada di depan kita!!!

Showletter6

Betty_boop1

    Keren kannn…??? 

 

 

 

Bug_darkbg_sm1
Sepenggal Pedoman Hidup dari endah@sulfindo
 
Dalam Pernikahan banyak hal yang
harus kita perhatikan, salah satunya cinta, perasaan dan uang. Ketiga hal
tersebutlah yang kadangkala membuat kita bingung harus pilih yang mana. Namun
pada dasarnya hanya diri
kitalah yang tahu siapa yang akan menjadi pendamping
hidup kita yang benar- benar tepat.
Janganlah terlalu cepat menilai
seseorang dari penampilan pisik dan seabreg kelebihan-kelebihan lainnya, karena
semua itu kadangkala hanyalah sebuah topeng yang akan jelas terlihat setelah
kita hidup bersamanya.
Hidup adalah sebuah pilihan
yang harus ditempuh setiap orang dan allah telah menetapkan takdir setiap
manusia dimuka bumi atas kehendaknya yang tidak bisa dirubah oleh siapapun. Dan
kita sebagai makhluk ciptaanNya
hanya bisa berdoa dan berusaha untuk
mendapatkan apa yang terbaik dalam hidup dan tentunya dengan extra kerja
keras.
Tak ada rasa penyesalan yang
dalam atas pilihan hidup yang telah kita lalui karena pada akhirnya kita hanya
akan menyalahkan Tuhan…naudzubillah…
Masa pahit yang telah kita
lalui jangan-lah dijadikan alasan atas pilihan-pilihan hidup yang telah kita
buat, justru rasa pahit itulah yang kita jadikan cambuk atas apa yang kita
lakukan agar kita menjadi manusia yang lebih baik dan lebih lebih
lebih.
* Pernikahan harus didasari
cinta
karena tanpa cinta hati kita akan mati, kita menikahi seseorang bukan
hanya terpaku apa yang ada di raga orang tersebut tetapi seluruh jiwa dan
raganyalah yang kita nikahi,
jadi sekali kita memutuskan tuk menikah hanya sekali itulah cinta
kita
berlabuh kedalam hatinya.
* Pernikahan harus pula
didukung oleh Perasaan karena tanpa perasaan, cinta kita akan mati dan
tanpa cinta perasaan kita akan hilang. The point is : Cinta dan perasaan adalah
dua hal yang tidak dapat dipisahkan Karena dua hal tersebut berasal dari satu
hati yang sama.

Memang benar kadangkala Cinta membutakan perasaan kita, namun
seberapa buta dirikita nantinya hanya kitalah yang mampu merubahnya.

*
Memang uang menjadi salah satu dari sekian banyak kasus perceraian, namun
janganlah kita mendewakan uang karena itu
hanyalah titipan tuhan yang dapat diambil dan dikembalikan kepada kita hanya
semudah membalikan
telapak tangan. Berapapun gaji yang diterima oleh masing 2
pasangan kita, kita harus bersyukur karena coba tengok kebelakang …berapa ribu
orang yang mengemis, menganggur, mengamen dijalan karena mereka
tidak
mempunyai pekerjaan tetap.

Semakin kita bersyukur atas apa yang
kita terima…insya Allah…Allah akan menambah Rizki kita dalam hitungan
sepersekian detik.

Cobaan dalam rumah tangga memang tidak
sedikit…sekecil apapun masalahnya akan tetap menjadi masalah yang harus
secepatnya diselesaikan. Dari pengalaman hidup yang saya alami ada beberapa
hal
yang mungkin sedikit dapat membantu kita menyelesaikan setiap konflik
atau mungkin menjaga agar konflik tersebut tidak sampai hadir dalam rumah tangga
kita.

1. Usahakan untuk tetap
berkomunikasi dengan masing masing pasangan walaupun hanya dalam hitungan detik
karena dengan begitu pasangan kita akan merasa dihargai dan akan melakukan hal
yang sama.
2. Jangan biarkan masalah
menginap satu malam diatas tempat tidur kita….sebelum kita memutuskan untuk
tidur, masalah tersebut haruslah sudah selesai dengan kata MAAF, karena kita
tidak akan pernah apakah
kita akan bangun lagi dikeesokan harinya sebelum
mengucapkan maaf.
3. Cobalah untuk diam dikala
salah satu dari kita dalam kondisi marah, dan barulah kita, masuk setelah marah
dalam dirinya sudah mulai reda.
4. Berilah kepercayaan penuh
kepada pasangan kita, insya allah dia akan menjaga kepercayaan yang kita
berikan.
5. Hindari rasa cemburu yang
membabi buta tanpa alasan yang jelas. Be Positive for Everything he/she
do.
6. Cobalah tuk bersikap terbuka
satu sama lain dengan menyebutkan kelebihan dan kekurangan masing masing kita
tanpa rasa beban…misalnya:
Aku ngga  suka atas apa yang kamu
lakukan……bla bla bla.. Sayang …kamu kelihatan cantik sekali hari
ini

Berilah pujian
walaupun sedikit dan sederhana dan jangan lah jadikan kekurangan pasangan kita
sebagai senjata tuk melemahkannya dikala kita bertengkar.
7.
Ucapkan kalau kita mencintainya setiap kali kita mau tidur, bangun tidur,
ngobrol dan hal itu harus dilakukan setiap hari. Memang sederhana ….namun
khasiatnya sangatlah luar biasa..kita akan merasa memiliki satu
sama lain dan
batin batin kita terdapat sebut tali pengikat yang sangat kuat, dimanapun kita
berada, dia selalu ada dalam hati kita dan menemani setiap aktifitas yang kita
lewati sehari hari.
8. Jadikan pasangan kita sebagi
Teman, Sahabat, Kakak, Adik, Suami, Istri dan Pengganti dari orang tua kita dan
Insya Allah pertengkaran itu dapat dihindari.
9. Buang jauh segala
permasalahan hidup diluar dan jangan dibawa pulang kerumah..bedakan mana rumah,
mana kantor.
10. Buatlah rumah kita sebagai
tempat peristirahatan, peredam, penyelesaian konflik atas semua permasalahan
hidup yang kita hadapi.

Konflik akan selalu ada dalam kehidupan ini,
tinggal bagaimana kita menyikapi atas setiap konflik yang ada secermat, searif
dan sebijaksana mungkin.

MENIKAHLAH DENGAN
PERASAAN DAN HATI DAN BUKAN DENGAN LOGIKA, KARENA KITA TAK AKAN PERNAH TAHU
APAKAH LOGIKA KITA AKAN BENAR ATAU TIDAK TETAPI
JIKA PERASAAN DAN HATI KITA
YANG BERJALAN, INSYA ALLAH KITA TIDAK AKAN SALAH DALAM MEMBUAT PILIHAN DALAM
HIDUP.

Menikah Beda Agama

April 26, 2007 | | 1 Comment

Prof Dr Muhammad Quraish Shihab

Menikahlah dengan Mempertimbangkan Agama
Penjelasannya
menyejukkan. Begitulah Prof Dr M Quraish Shihab. Pakar tafsir
termasyhur ini berusaha tak menggurui, bahkan, memvonis mereka yang
mengajukan permasalahan. Dengan kekayaan keilmuan yang dimilikinya, ia
selalu memberikan tawaran alternatif. Bila ada pendapat yang lebih
kuat, ia hanya mengatakan, ”Saya cenderung memilih pendapat ulama A
atau B”.

Kendati demikian, tak berarti ia kehilangan ketegasan. Menghadapi
masalah yang helas halal atau haram, ayah lima anak ini, akan tegas
menyatakannya langsung. Ia, bahkan, tak akan bergeming.

Lantas, bagaimana pandangannya terhadap masalah khilafiyah
seperti menikah beda agama? Pria yang hapal Alquran ini mengimbau agar
melihat konteks suatu ayat saat diturunkan. ”Dalam ayat yang
membolehkan dan melarang nikah beda agama, kita harus jeli membaca
latar belakang ayat tersebut turun. Bila tidak, kita akan terjerumus
dalam perdebatan masalah-masalah sepele yang hanya menghabiskan energi
saja,” jelas Quraish.

Selain aktif menulis dan berceramah, sejumlah jabatan penting juga
pernah ia jalani, antara lain Menteri Agama, Duta Besar RI untuk Mesir,
dan Rektor IAIN Jakarta kini Universitas Islam Negeri (UIN). Di tengah
kesibukannya yang padat, doktor dari Universitas Al-Azhar Mesir ini
tetap menyempatkan menjawab berbagai pertanyaan dari pembaca Republika secara ajeg.                           

Kini, pria kelahiran Rappang, Sulawesi Selatan, 16 Februari 1946 ini sedang menyelesaikan Tafsir Al Misbah  sebanyak 30 juz yang sekarang telah terbit 13 volume. Dalam waktu dekat juga segera terbit  dua bukunya, Bekal Perjalanan dan 40 Hadis Qudsi Pilihan. Berikut petikan wawancara dengannya seputar pernikahan beda agama.

Pernyataan Nabi SAW menyebutkan ada tiga kriteria untuk
melangsungkan pernikahan. Yaitu pilih materi, kecantikan, dan agama,
maka pilihlah agamanya. Bisa Anda jelaskan hal ini?

Hadis itu menggambarkan ada orang yang dorongan kawinnya itu harta, ada
pula dorongan karena kecantikannya. Kalau yang mengatakannya itu
penganjur agama, maka dia akan berkata, "fazfar bizaati diniha" (pilih
agamanya).

Tapi kalau hal itu diucapkan oleh bukan penganjur agama, maka dia akan
mengatakan, pilih saja hartanya atau kecantikannya. Saya dapat
mengatakan bahwa hampir semua yang kawin beda agama itu tidak
menempatkan faktor dan nilai agama dalam pertimbangan utama tingkatan
yang tinggi. Islam sudah demikian jelas, menempatkan pertimbangan agama
pada tingkatan tertinggi, melebihi faktor-faktor lainnya.

Anda tadi menegaskan, Islam tidak membolehkan nikah beda agama, bila
pertimbangannya agama. Lantas bagaimana dengan ayat Alquran yang
membolehkan pria Muslim menikahi wanita non-Islam?

Ayat itu harus dilihat dalam konteks ajaran agama ketika itu. Kondisi
masyarakat saat itu yang dominan adalah lelaki Muslim bisa mentoleransi
istrinya melaksanakan tuntunan agamanya yang Yahudi atau Nasrani.
Tetapi lelaki yang non-Muslim, karena dia dominan, bisa jadi
memaksanakan istrinya untuk keluar dari agamanya.

Mengapa? Antara lain karena non-Muslim tidak percaya Muhammad SAW itu
nabi. Akan tetapi, seorang Muslim meskipun dia dominan, tetap percaya
bahwa Isa AS adalah nabi, Musa AS itu nabi, dan dia percaya bahwa Islam
itu mentoleransi setiap orang menjalankan agamanya masing-masing. Jadi
Islam membenarkan Muslim (pria) menikahi non-Muslim (wanitanya).

Sekarang ini, seandainya yang lebih dominan itu Muslimahnya, laki-laki
non-Muslimnya yang minoritas, bisa nggak laki-laki itu dalam
pertimbangan agamanya membenarkan Muslimah menjalankan agamanya yang
dianut tersebut? Menurut agama si laki-laki itu kan tidak dibenarkan.
Itu yang pertama. Sebaliknya, seandainya perempuan itu non-Muslim, dan
laki-lakinya Muslim, tetapi kondisi sekarang ini menunjukkan bahwa
perempuan bisa lebih dominan, maka hal itu terlarang secara syar’i (secara hukum Islam).

Alasannya?

Ya, dia (kaum perempuan itu) bisa mempengaruhi suaminya, bisa
mempengaruhi anak-anaknya, dan akan menjadi penentu yang kuat dalam
kehidupan mereka.

Apa bedanya bila yang dominan itu kaum laki-laki, toh dia
(laki-laki) itu juga akan mempengaruhi, seperti yang dilakukan wanita
bila mereka mayoritas?

Inilah yang saya katakan tadi, pertimbangannya adalah pertimbangan
agama. Iya toh? Saya ingin melangkah lebih jauh lagi. Bahwa hampir
semua orang yang menikah beda agama dan budaya (agama apapun yang
dianutnya) pada saat anak-anaknya lahir dan dewasa mengalami
kebingungan yang luar biasa. Itu anak mau dididik dan dibimbing dalam
agama apa, serba dilematis. Jangan-jangan, sudahlah tidak usah beragama
saja.

Pada posisi seperti inilah, mereka mengalami semacam split personality,
keterbelahan jiwa. Ini amat berbahaya bagi masa depan anak-anak
tersebut. Karena itu, kalau orang yang mau menikah itu menjadikan nilai
agama sebagai pertimbangan yang pertama dan utama, maka orang itu tak
akan kawin. Orang Kristen tidak akan nikah dengan Muslimah, sebaliknya
orang Islam tak akan menikah dengan non-Islam.

Ada persoalan lain. Sebagian kalangan berpendapat, nikah beda agama
untuk menjaga dan melestarikan sikap keberagamaan yang pluralis dan
inklusiv. Kebetulan masyarakat kita ini plural. Bagaimana Anda
melihatnya?

Betul, kita plural. Tetapi jangan lantas kita mengorbankan keyakinan,
jangan mengorbankan anak sehingga tidak mempunyai pegangan. Kita ini seringkali salah kaprah memaknai pluralisme atau inklusiv dan sejenisnya itu. Lagi pula di agama lain juga akan mempertahankan sikapnya, tidak akan mau terbawa begitu saja. Jadi plural dan inklusiv itu ada batasnya.

Ada nggak di masa Nabi SAW dan sahabat nikah beda agama itu?

Ada, cukup banyak juga. Tapi itu dilakukan dalam rangka dakwah, dan
laki-laki yang Muslim saat itu, yang non-Muslimnya adalah kaum
wanitanya. Jadi waktu itu tak ada yang wanitanya itu Muslimah. Karena
pemahaman ulama selama ini dalam konteks ayat-ayat Alquran mereka
pahami bahwa Muslimah tidak boleh menikah dengan non-Muslim. Jadi ya
cukup jelas.

Masalah pengertian ahlul kitab (para penganut agama langit), tak jarang jadi masalah dalam soal nikah beda agama. Sebenarnya, konsep ahlul kitab seperti apa sih dan  ada batasan khusus?

Ada dua pendapat ulama. Ada yang mempersempit definisi ahlul kitab. Ada yang memperluas. Satu sisi, kalangan ulama yang memperluas berpendapat, ahlul kitab
itu semua orang yang menganut agama Yahudi dan Nasrani, baik sebelum
maupun sesudah datangnya Islam. Dengan demikian, mereka berpandangan
menikah beda agama, berarti boleh.

Yang kedua, pandangan ulama yang mempersempit, yang merujuk pada ayat 5 surat Al-Maidah.  Atas dasar ini, maka ahlul kitab
yang dimaksud ialah sebelum datangnya Islam. Bagaimana sekarang? Saat
ini kan penganut Yahudi dan Nasrani sesudah Islam begitu banyak,
bahkan, Nasrani saja mayoritas di dunia.

Jadi batasan bolehnya sebelum Islam?

Benar! Umat manusia sebelum Islam datang dibolehkan dinikahi. Jadi
keturunannya setelah Islam ini datang, tidak boleh dinikahi. Nah ini
yang mempersempit pandangan. Kalau saya berpendapat, semua penganut
agama, baik sebelum maupun sesudah Islam datang, kapanpun dan di
manapun, boleh dinikahi.

Masalahnya, sebagian kitab agama Yahudi dan Nasrani itu sudah tercampur tangan manusia. Apa komentar Anda?

Pada zaman Nabi SAW pun sudah berubah. Siapa bilang baru sekarang ini
dicampuri tangan-tangan manusia, kepentingan manusia itu sendiri. Sejak
masa Nabi SAW, umat Kristen sudah mengakui Trinitas. Memang ada yang
berpendapat, misalnya sahabat Nabi SAW, yakni Ibnu Umar, yang
menyatakan bahwa secara tegas Alquran melarang perkawinan dengan musyrikat (wanita musyrik). Saya tidak tahu, kemusyrikan yang lebih jelas dari menganut Trinitas.

Tentu kondisi sekarang sudah jauh berbeda dari masa Nabi SAW.
Alquran sendiri kan turun juga dikondisikan dengan budaya masyarakat
saat itu. Lantas bagaimana dengan nikah beda agama saat ini?

Begini yah. Sebenarnya nikah beda agama itu kan diberikan sebagai salah
satu jalan. Misalnya saja takut terjerumus ke jurang perzinaan, dan
lain sebagainya, ya sudahlah menikah antaragama, ya itu sah-sah saja
bagi mereka ini.


Tapi kalau mau prinsip ajaran agama
, atau bahkan prinsip kafaah
(persamaan budaya, wawasan, sikap sosial, sikap pandangan hidup)
sekalipun, ini yang terpenting,
maka nikah beda agama tidak
diperbolehkan
. Jadi, hemat saya, umat beragama hendaknya mendasarkan
pada pertimbangan agama, apapun agamanya. Sebab agamalah yang akan
melanggengkan perkawinan.


Berita bisa dilihat di : http://www.republika.co.id/Cetak_detail.asp?id=136267&kat_id=105

 

TEST PSYCHOPATH

April 26, 2007 | | 1 Comment

Ini adalah cerita
seorang gadis. Pada saat ada di upacara pemakaman ibunya yang baru 
meninggal, dia bertemu dengan seorang laki-laki yang  belum pernah dia
kenal sebelumnya. Dia sungguh tertarik dengan lelaki ini.

Lelaki ini adalah pria idaman yang selalu dia impikan sejak dulu sehingga
dia langsung jatuh cinta. Tapi sayang sekali setelah itu laki-
laki tadi
menghilang dan gadis tersebut tidak pernah bertemu dengan lelaki itu lagi.
Beberapa hari setelahnya, ada kejadian heboh. Gadis ini membunuh kakak
perempuan kandungnya.

PERTANYAAN: Apa motif pembunuhan
ini?

============ =======
JANGAN memindahkan kursor komputer ini ke
bawah sampai kamu sungguh menemukan jawabannya.

(berhenti sejenak untuk
berpikir jawaban pertanyaan
ini)!!!

============ =======

JAWABAN YANG
BENAR:
Gadis ini berharap bahwa lelaki idamannya akan muncul lagi di
pemakaman kakak perempuannya. ———— ——— ——— —

Jika
jawabanmu benar, berarti kamu telah berpikir seperti seorang psikopat. Tes ini
dibuat oleh seorang psikolog Amerika yang terkenal.
Tes diberikan untuk
mengetahui apakah seseorang memiliki mentalitas sebagai seorang pembunuh atau
tidak. Banyak narapidana kasus pembunuhan disuruh menjawab tes ini, dan
jawabannya benar. Jika jawabanmu salah, ini sungguh baik. Jika ada salah satu
teman yang betul dalam menjawab, kamu perlu berpikir untuk menjauhi orang
tersebut.

************ ***

Ayo, jawabannya benar apa
salah??

                                                                                                [Sri Endah]